Site icon zonakalteng

Remaja Putri dari Kecamatan Dusun Hilir, Citra Bunga Lestari: ‘Saya Bukan Perawat Hati’

ZONAKALTENG-Buntok – Pagi merangkak perlahan di langit Kecamatan Dusun Hilir. Matahari berusaha menembus tirai awan tipis, namun sinarnya tertahan lembut.

Bukan terik yang terasa, melainkan embun yang menari ringan, singgah di ujung-ujung rambut dan dedaunan.

Di antara kesejukan itu, seorang perempuan muda berdiri dengan rambut dikuncir kuda. Butir embun seolah bertengger di helaian rambutnya, bening seperti kulitnya yang terawat alami.

Senyum tipis menghiasi wajahnya tenang, namun menyimpan cerita panjang.

“Citra Bunga Lestari. CBL,” ucapnya singkat, memperkenalkan diri di Kelurahan Mengkatip, Kecamatan Dusun Hilir, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, Minggu, 19 April 2026.

Di balik kesederhanaannya, Citra adalah potret keteguhan. Senyumnya bukan sekadar ekspresi, melainkan cerminan dari perjalanan hidup yang tak mudah.

Ayahnya meninggal saat ia baru berusia tiga tahun. Kala itu, mereka tinggal di Desa Sungai Jaya dua jam perjalanan menggunakan kelotok dari tempatnya kini berdiri.

“Ibu yang menggantikan semuanya,” kenangnya.

Sejak saat itu, sang ibu menjadi tumpuan hidup. Apapun dilakukan demi bertahan berjualan kelakai, daun ubi kayu, hingga mencari ikan di sungai. Dari jerih payah itulah Citra bisa terus bersekolah.

Ia bertahan hingga kelas tiga sekolah dasar di Sungai Jaya, sebelum akhirnya pindah ke Kelurahan Mengkatip. Di tempat baru itu, ia mulai menemukan ruang untuk berkembang.

“Saya suka mencoba hal baru. Kemarin ikut fashion show di Festival Daren Kanderang Tingang di Dunhil,” katanya dengan matanya berbinar.

Kini, gadis kelahiran 2007 itu duduk di bangku kelas XII SMAN 1 Dusun Hilir. Perjalanan menuju bangku sekolah itu bukan cerita biasa ia ditempa oleh kehilangan, kerja keras, dan harapan yang tak pernah padam.

Citra memahami bahwa hidup tak selalu berjalan sesuai rencana. Ada hal-hal yang tak bisa dikendalikan: tempat lahir, pertemuan, hingga perpisahan. Namun, ia memilih menerima, tanpa kehilangan arah.

Baginya, harapan adalah bagian kecil dari kuasa manusia yang harus dijaga dan diupayakan semaksimal mungkin.

“Saya ingin jadi perawat. Beberapa bulan lagi lulus SMA. Rencana mau lanjut ke Palangka Raya. Semoga bisa dapat beasiswa dari Adaro,” ucapnya penuh harap.

Ia ingin menjadi perawat bukan sekedar profesi, tetapi jalan untuk memberi manfaat membantu orang-orang yang ingin pulih dari sakit.

Namun, ketika ditanya tentang ‘hati yang terluka’, Citra spontan tertawa lepas.

“Kalau hati yang sakit, ke psikolog saja. Saya bukan perawat hati,” candanya.

Tawa itu ringan, tapi jujur. Sejenak, ia kembali menjadi remaja biasa yang bisa bercanda di tengah mimpi besar yang sedang ia kejar.

Mimpi Citra sejatinya sejalan dengan program pendidikan yang dijalankan PT Adaro Indonesia, seperti beasiswa reguler bagi mahasiswa semester awal dan Beasiswa Utusan Daerah (BUD).

Department Head Corporate Social Responsibility (CSR) Adaro menyebutkan, sejumlah pelajar di Barito Selatan telah merasakan manfaat program tersebut.

Namun, untuk wilayah Mengkatip, masih ada tantangan dalam menjaring calon penerima yang siap menghadapi tahapan seleksi.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Barito Selatan mengapresiasi peran Adaro dalam mendukung pengembangan masyarakat dan pelestarian budaya.

Melalui Asisten III Sekretariat Daerah, Eko Hermansyah, menyampaikan bahwa Festival Daren Kanderang Tingang menjadi wadah penting untuk menjaga identitas daerah sekaligus menggerakkan UMKM.

Festival itu menampilkan beragam kegiatan dari ritual adat mengaruh, fashion show, lawang sakepang, besei kambe, hingga workshop anyaman dan pameran kerajinan.

Di tengah semarak festival dan geliat budaya itu, Citra adalah satu dari sekian cerita yang tumbuh diam-diam tentang mimpi, keteguhan, dan harapan dari sudut kecil Dusun Hilir.

Ia mungkin belum menjadi perawat hari ini. Namun, langkahnya sudah mengarah ke sana pelan, pasti, dan penuh keyakinan. (B/A2)

Exit mobile version