Beranda Headline Berselisih Soal Upah, Ratusan Pekerja PT LAK di Kapuas Mogok Kerja

Berselisih Soal Upah, Ratusan Pekerja PT LAK di Kapuas Mogok Kerja

35
0

Barselnews, Kapuas – Sedikitnya 700 pekerja PT Lifere Agro Kapuas (LAK) di Kapuas melakukan aksi mogok kerja karena berselisih soal pengupahan atau pihak perusahaan merubah perhitungan upah borongan kerja.

Aksi mogok kerja tersebut dilakukan sejak Rabu, 19 Juni 2019 lalu dan direncanakan berlangsung sampai dengan 10 Juli 2019 mendatang.

Ratusan pekerja itu melakukan aksi mogok kerja itu lantaran tuntutan mereka kepada perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit itu tidak dihiraukan.

“Sekitar 700an pekerja melakukan mogok kerja mulai hari Rabu, 19 Juni 2019 kemarin. Hal tersebut dilakukan karena pertemuan pada Selasa, 18 Juni 2019 antara perusahaan dan pekerjaterkait persoalan pengupahan tidak ada hasil,” kata Ketua Korwil Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Provinsi Kalteng Jasa Tarigan, Jumat, 21 Juni 2019.

Ia membeberkan, pihak perusahaan tidak mau menemui pihaknya selaku SBSI untuk menyelesaikan persoalan antara karyawan dan perusahaan.

Perusahaan, lanjut dia, beralasan tidak ingin kehadiran pihak Korwil SBSI Kalteng dalam pertemuan tersebut.

Ia menjelaskan, mereka menginginkan pertemuan itu, hanya antara perusahaan dengan para pekerja. Padahal mediasi di Dinas Tenaga Kerja Kapuas bukan di perusahaan.

“Itu pun kami mau saja, walau di perusahaan. Tetapi mereka perusahaan tetap tidak mau ketemu karena ada kita yang dampingi buruh,” jelas dia.

Menurutnya, kedatangan pihaknya hanya mendampingi dan melakukan pembelaan kepada pekerja dan para buruh untuk menyelesaikan persoalan industrial.

“Hal itu sesuai dengan undang-undang nomor 21/2000 tentang peserikatan buruh atau SBSI bahwa tugasnya mendampingi, membela kepentingan hak normatif buruh serta meningkatkan kesejahteraan mereka beserta keluarganya,” tandas dia.

Ia membeberkan, persoalan yang terjadi antara perusahaan dengan pekerja ini lantaran pihak perusahaan dengan semena-mena atau perampasan hak buruh terhadap pengupahan pekerja.

Dimana pasal 55, lanjut dia, disebutkan kesepakatan kerja, itu tidak boleh dicabut, dibatalkan sepihak, harus mendapatkan persetujuan kedua belah pihak.

Akan tetapi, perusahaan pada tanggal 2 Mei itu, mereka merubah perhitungan upah borongan kerja dan ini sangat memberatkan pekerja, dan mereka melakukan protes tidak di indahkan oleh perusahaan.

“Karyawan pekerja keberatan, namun perusahaan memaksakan dengan upah yang baru padahal tidak sesuai ketentuan dan mekanisme. Serta upah tersebut turun dari sebelumnya,” beber dia. (DJEMMY NAPOLEON/A2).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here