Beranda Headline Petani di Desa Gadabung Gagal Tanam, Produksi Padi di Pulang Pisau Terancam...

Petani di Desa Gadabung Gagal Tanam, Produksi Padi di Pulang Pisau Terancam Menurun

94
0
Kondisi Padi sawah gagal tanam di Desa Gadabuk

ZONAKALTENG, Pulang Pisau – Sejumlah petani di Desa Gadabung, Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau dikabarkan mengalami gagal tanam padi, karena naiknya pirit ke lahan pertanian mereka.

Akibatnya, produksi padi di Kabupaten Pulang Pisau akan terancam menurun. Hal tersebut karena Desa Gadabung merupakan salah satu lumbung padi di Kabupaten Pulang Pisau, dan juga salah satu penyumbang produksi padi terbesar.

Dengan kondisi tersebut, para petani di Desa itu hanya bisa mengelus dada, dan pasrah tanpa bisa berbuat apa-apa.

Salah satu petani, Imam mengatakan, luas lahan pertanian para petani di Desa Gadabung kurang  lebih 300 hektar, rata-rata mengalami kerusakan atau gagal tanam mengakibatkan kerugian yang cukup besar.

“Kalau dihitung mas untuk kerugian saya mencapai Rp20 juta lebih, itu pun hanya biaya bibit dan operasional, termasuk pupuk dan lainnya belum bisa kita hitung,” kata Imam, Sabtu, 7 Maret 2020.

Ia membeberkan, dari seluruh lahan pertanian di desanya, kurang lebih 30 persen mengalami gagal tanam. Hal ini dikarenakan, Padi yang ditanam tidak tumbuh, akibat pirit naik.

Ini juga akibat pengaruh sebelumnya terjadi kemarau panjang dan mengakibatkan tanaman sempat kering.

” Biasa kalau punya saya mas, dalam satu kali musim tanam bisa panen padi sebanyak 5,65 ton per hektare, nah kalau empat hektare saja, sudah berapa kerugian saya,” ucap dia.

Ia menambahkan, permasalahan ini khususnya Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) sudah melaporkan ke Dinas Pertanian Pulang Pisau.

“Kita telah melaporkan terkait gagal panen ini, namun sampai sekarang belum mendapat respons dari Dinas terkait. Sampai hari ini juga belum ada petugas yang turun melihat kondisi pertanian kita,” jelas dia.

Agar permasalahan ini tidak terulang kedepannya, pihaknya pun mengusulkan kepada Dinas Pertanian membuat sumur bor di sawah.

“Kalau ada sumur bos pak, saat terjadi kemarau panjang bisa dilakukan untuk mengairi sawah. Sehingga lahan tidak teroksidasi dan pirit tidak naik,” beber  dia.

Lebih lanjut Imam menjelaskan, pihaknya juga menginginkan kolam di area persawahan juga difungsikan kembali.

“Sehingga jika sewaktu-waktu terjadi kenaikan pirit, kolam itu bisa difungsikan,” terangnya.

Imam juga mengungkapkan, selain desanya, ada beberapa desa lainnya yang mengalami hal serupa. Di antaranya, Desa Belanti Siam, Pantik dan Desa Sanggang.

Dinas Pertanian Pulang Pisau Tak Berdaya Atasi Gagal Tanam

Kepala Dinas Pertanian Pulang Pisau, Slamet Untung Rianto mengakui untuk mengatasi pirit yang dikeluhkan petani desa Gadabung mengaku sulit.

Karena hal itu terjadi secara alami dan untuk membersihkan pun perlu proses pencucian saat hujan.

“Kalau secara fisik yang bisa kami lakukan melakukan pembinaan dan pengaturan pola tanam,” kata Slamet Untung Rianto.

Ia mengatakan, kalau pihaknya diminta menurunkan pirit, dirinya mengaku belum bisa. Sebenarnya, saat program serasai juga ada kegiatan pembenahan tanah.

“Kebetulan saat kegiatan itu jalan, petani sudah tanam. Jadi aplikasi pola tanam tidak dilaksanakan,” ujarnya menjelaskan.

Ia pun tidak menampik, akibat kondisi itu akan mempengaruhi terhadap produksi padi di Pulang Pisau. Namun hal itu tidak berpengaruh secara signifikan.

Dirinya berharap, dapat tertutup dari produksi di wilayah lain, tanpa memberikan solusi yang diharapkan. (SENDRI/A2).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here