
Oleh: Kadarisman
(Pemerhati Sosial Politik Banua)
Puasa Ramadhan tahun ini suasananya berbeda. Tak sesemarak tahun lalu. Mereka yang sedang menjalankan ibadah Ramadhan, terutama salat tarawih dihadapkan dua persimpangan: berjamaah di masjid dan mushala atau sendiri di rumah saja.
Pasalnya virus vorona mengintai. Ia masih merebak dan berkelindan hingga bulan puasa tiba.
Ajakan untuk ber-social diatancing dan physical distancing gencar disuarakan. Sejatinya ia adalah ajakan dakwah, ajakkan kebaikan.
Agar covid-19 dapat diputus. Pun demikian tak lantas meninggalkan kewajiban. Perkara ibadah kepada Tuhan tetap dapat dilangsungkan.
Tuhan tak pernah memberatkan, karena selalu ada opsi bagi Nya sebagai pilihan kontekstual dan keadaan agar tetap mendapatkan esensinya.
Tak dapat berjamaah di masjid atau mushola bukan berarti tak bisa berjamaah di rumah sendiri bersama keluarga.
Tak datang ke masjid dan mushola bukan berarti tempat ibadah itu menjadi tempat penyebaran corona.
Tetapi sungguh kita tak bisa sangka, siapa diantara kita yang tak bergejala tetapi akan menyambungkan mata rantai corona.
Pada akhirnya menambah jalan terjal kebijakan negara untuk membenahi penyebaran corona yang tampak semakin massif.
Ber-social distancing tak sama dengan bercerai berai. Meme jargon bersatu kita runtuh, bercerai kita utuh seolah relevan di saat corona menyebar tak dapat untuk dibenarkan.
Persatuan paling kuat bukan pada bertautnya jabat tangan, tapi kuatnya hati kita untuk saling terhubung dan menjaga.
Sama ketika bangsa ini mengentaskan tanahnya dari penjajah, hati mereka lah yang menyatukan dari pulau ke pulau di seluruh negeri. Semangat mereka yang yang terkoneksi dalam gelora yang satu: kebebasan untuk merdeka!
Kita tetap bersatu. Karena itu tetaplah satu kesepahaman dalam satu tujuan kebaikan.
Bersatu hati untuk berkontribusi memutus mata rantai virus corona. Bersatu untuk menjaga dan melindungi orang orang dekat, sahabat, jamaah dan saudara sebangsa setanah air dari paparan covid 19.
Dengan demikian tak sedikit pun ritual ramadhan dikurangkan. Semuanya tetap dapat dijalankan. Semakin kuat kita menyatukan hati maka semakin teguh kita mengisi ritual Ramadhan hingga penghujung bulan nanti.
Menegaskan spiritual vertikal haruslah pula menyempurnakan spiritualitas horizontal. Tuhan tak sudi pada hamba yang asyik dan tenggelam dalam ritualisme yang egois.
