
ZONAKALTENG, Pulang Pisau – Bupati Pulang Pisau H Edy Pratowo didampingi Kepala Dinas Kesehatan, dr Muliyanto Budhiharjo menerima sertifikat Eliminasi Malaria bersama 11 Kepala Daerah Se-Indonesia.
Sertifikat Eliminasi Malaria tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin di Kantor Kementrian Kesehatan di Jakarta, Selasa, 27 April 2021.
“Alhamdulillah, kita bersama 11 kabupaten/kota lainnya di Indonesia menerima Sertifikat Eliminasi Malaria dari Kemenkes RI, ” kata H. Edy Pratowo melalui rilis disampaikan oleh Bagian Protokol Setda Pulpis.

Bupati mengaku bersyukur kabupaten Pulang Pisau dapat meraih Sertifikat Eliminasi Malaria dari Kementrian Kesehatan RI.
Ia juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada Bapak Menteri Kesehatan yang telah memberikan penghargaan Sertifikat Eliminasi Malaria.
Dengan adanya penghargaan ini, semua patut dan wajib bersama-sama mepertahankan, agar Bumi Handep Hapakat bebas dari malaria.
“Apresiasi dan ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada Dinkes, RSUD, Puskesmas, Tenaga Kesehatan dan masyarakat Pulpis yang telah bekerja keras bersama-sama sehingga mendapatkan bebas Malaria, ” ucap dia.
Sementara Kepala Dinkes Pulpis, dr Muliyanto Budhiharjo mengatakan bahwa Sertifikat Eliminasi Malaria bisa diperoleh karena dukungan Bupati dan serta sinergitas semua pihak, baik puskemas dan RSUD berjuang selama 3 tahun berturut turut.
Perolehan tersebut setelah dinyatakan memenuhi 3 syarat bebas malaria, yakni jumlah kasus harus di bawah 1 – 1000 penduduk, dan posisi Kabupaten Pulang Pisau 0,07 atau ditemukan sekitar 7 – 20 kasus dalam beberapa tahun terakhir.
“Setelah penilaian 3 tahun berturut-turut dari tahun 2017, 2018 dan 2019 kasus kasusnya di bawah 1-1000 penduduk, maka kita memperoleh setefikat eliminasi malaria,” ucap dia.
Sedangkan, syarat kedua jumlah yang dinyatakan positif atau jumlah yang diperiksa harus kurang dari 5 persen, Pulpis sendiri diangka sekitar 3 persen. Dan syarat ketiga tidak ada penularan lokal atau penularan malaria di daerah tersebut.
“Sekarang ini, di Pulpis semua kasus malaria adalah kasus import atau rata-rata mereka yang kena adalah masyarakat yang bekerja baik perkebunan atau penambang di daerah yang berisiko malaria,” ucap dia. (SENDRI/A2)
