Kamis, Oktober 15

PT TOP–PAMA Perkuat Ekonomi Warga Buhut Jaya, UMKM Didorong Naik Kelas dan Berdaya Saing

ZONAKALTEN, Kapuas – Pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan tidak cukup hanya berhenti pada bantuan modal. Penguatan kapasitas, pendampingan teknis, hingga kemampuan mengelola usaha menjadi bagian penting agar masyarakat mampu tumbuh secara mandiri dan menciptakan sumber pendapatan yang berkelanjutan.

Komitmen tersebut kembali ditunjukkan PT Telen Orbit Prima (TOP) bersama PT Pamapersada Nusantara (PAMA) melalui program pembinaan dan pendampingan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Buhut Jaya, Kecamatan Kapuas Tengah, Kabupaten Kapuas, pada & Agustus 2026.

Program ini menjadi bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), dengan orientasi tidak sekadar memberikan bantuan, tetapi membangun kemampuan masyarakat agar usaha yang dijalankan dapat berkembang, produktif, dan memiliki daya tahan ekonomi.

Pembinaan menyasar sejumlah sektor usaha yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan di tingkat desa. Pilihan sektor tersebut juga mencerminkan upaya mendorong ekonomi masyarakat melalui usaha yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warga.

Di sektor peternakan, program menyasar empat orang peternak kambing lokal. Pendampingan diarahkan pada peningkatan kemampuan dalam manajemen pakan, kesehatan hewan, hingga teknik pembibitan.

Pengetahuan tersebut menjadi penting karena keberhasilan peternakan tidak hanya ditentukan oleh jumlah ternak yang dimiliki, tetapi juga bagaimana peternak mampu menjaga kesehatan, memperbaiki produktivitas, serta mengelola biaya produksi.

Selain kambing, pembinaan juga diberikan kepada pelaku usaha ayam petelur. Sektor ini memiliki dua sisi strategis. Di satu sisi, usaha tersebut dapat menjadi sumber pendapatan rutin bagi keluarga. Di sisi lain, produksi telur lokal turut berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan pangan dan protein masyarakat.

Sementara di sektor pertanian, UMKM cabai mendapat pendampingan mulai dari pengolahan lahan, pengendalian hama secara terpadu, hingga strategi pemasaran hasil panen.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa persoalan petani tidak berhenti pada produksi. Hasil panen yang melimpah tanpa dukungan pemasaran dan pengelolaan usaha justru dapat membuat nilai ekonomi yang diterima petani tidak maksimal.

Salah satu sektor yang mendapat perhatian adalah UMKM BUJA (Buhut Jaya) yang bergerak dalam pengolahan aneka keripik. Usaha pengolahan pangan memiliki peluang besar untuk menciptakan nilai tambah.

Produk yang sebelumnya hanya berupa bahan mentah dapat diolah menjadi produk siap konsumsi dengan nilai jual lebih tinggi. Karena itu, pendampingan kepada UMKM BUJA tidak hanya menyentuh aspek produksi. Pelaku usaha juga diarahkan melakukan inovasi rasa, memperbaiki teknik pengemasan (packaging), serta meningkatkan standardisasi produk.

Langkah tersebut menjadi penting dalam menghadapi persaingan pasar yang semakin terbuka. Produk lokal tidak cukup hanya memiliki rasa yang baik. Kemasan, konsistensi kualitas, identitas produk, dan kemampuan memasuki pasar yang lebih luas juga menjadi faktor penentu.

Dengan demikian, pengembangan UMKM di Buhut Jaya diarahkan agar tidak hanya bertahan sebagai usaha rumahan, tetapi perlahan mampu berkembang menjadi unit ekonomi produktif yang memberikan dampak terhadap pendapatan keluarga dan perekonomian desa.

CSR Head PT TOP, Ramadhan, mengatakan program pembinaan tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pengembangan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Menurutnya, keberadaan perusahaan di tengah masyarakat diharapkan mampu memberikan nilai tambah yang berkelanjutan.

“Kami ingin kehadiran perusahaan di tengah-tengah masyarakat Desa Buhut Jaya memberikan nilai tambah yang berkelanjutan. Baik di sektor peternakan, pertanian, maupun sektor UMKM olahan pangan seperti BUJA, kami berharap para pelaku usaha dapat semakin mandiri, produktif, dan mampu meningkatkan taraf hidup keluarga,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa ukuran keberhasilan program pemberdayaan bukan semata-mata seberapa besar bantuan yang disalurkan, tetapi sejauh mana masyarakat mampu mengembangkan usaha setelah mendapatkan pembinaan.

Pendampingan juga mencakup tata kelola keuangan usaha. Aspek ini sering menjadi tantangan bagi pelaku UMKM karena keuangan rumah tangga dan keuangan usaha kerap bercampur.

Kemampuan mencatat pemasukan dan pengeluaran, menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, serta mengetahui keuntungan menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan usaha.

Program pemberdayaan di Buhut Jaya juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara perusahaan, pemerintah desa, dan masyarakat. Perusahaan dapat memberikan dukungan dan pendampingan, sementara masyarakat menjadi pelaku utama yang menentukan keberlanjutan usaha.

Pemerintah desa memiliki peran strategis dalam menciptakan ekosistem yang mendukung, termasuk membuka ruang pemasaran dan memperkuat kelembagaan ekonomi masyarakat. Jika sinergi tersebut berjalan konsisten, sektor peternakan, pertanian, dan industri pengolahan pangan dapat berkembang secara bersamaan.

Peternakan menghasilkan komoditas, pertanian memasok bahan pangan, sementara industri kreatif mengolah bahan menjadi produk bernilai tambah. Rantai ekonomi seperti inilah yang berpotensi menciptakan perputaran ekonomi di tingkat lokal.

Desa Buhut Jaya pun memiliki peluang untuk tidak hanya menjadi lokasi program CSR, tetapi berkembang sebagai salah satu kantong ekonomi produktif di Kecamatan Kapuas Tengah.

Pada akhirnya, keberhasilan program pemberdayaan akan terlihat ketika masyarakat mampu berdiri dengan kekuatan ekonominya sendiri: usaha semakin tertata, produksi meningkat, pasar semakin luas, dan pendapatan keluarga bertambah.

Bagi PT TOP dan PAMA, pendampingan UMKM menjadi bagian dari upaya meninggalkan manfaat yang lebih panjang bagi masyarakat sekitar. Sedangkan bagi warga Buhut Jaya, program tersebut membuka peluang untuk mengubah potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi yang nyata.

Sebab, membangun ekonomi desa bukan hanya tentang memberikan bantuan hari ini, tetapi tentang memastikan masyarakat memiliki kemampuan untuk terus tumbuh esok dan seterusnya.(B/A2)