Jumat, Oktober 16

Wakil Ketua Komisi IV Sebut Drainase Dan Sungai Tak Normal Rentan Picu Banjir Di Kotim

Foto: Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) Bima Santoso.(ZONAKALTENG/Darmo).

ZONAKALTENG, Sampit-Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) Bima Santoso drainase yang tak normal merupakan pemicu terjadinya banjir di wilayah perkotaan.

Menurutnya tingginya intensitas hujan sejak beberapa pekan terakhir ini sangat besar berpotensi menyebabkan banjir yang diakibatkan Drainase tak normal termasuk pendangkalan pada anak sungai dan dampak lainnya.

“Ini akibat drainase yang tidak optimal, dan kita ketahui beberapa hari ini intensitas dan curah hujan di kota sampit sangat tinggi, namun drainase kita baik yang kecil dan yang besar belum begitu berpengaruh secara signifikan menekan potensi terjadinya banjir, sebab beberapa waktu lalu kami sudah ngecek anak sungai dan drainase kondisinya perlu distabilkan,” ungkapnya Rabu (11/05/2022).

Legislator PKB itu juga mempertanyakan keseriusan pihak terkait terhadap penanganan musibah banjir didaerah ini.

Bahkan dia menekankan, kelayakan saluran air termasuk irigasi dan anak sungai harusnya menjadi hal penting untuk diperhatikan dan menjadi bahan evaluasi instansi terkait dalam menangani bencana alam seperti banjir belakangan ini terjadi.

“Sudah banyak dampak negatif dengan terjadinya keadaan seperti ini. Dari materil hingga lainnya. Bahkan alur sungai di samping kantor PUPR Kotim itu saja belum pernah di normalisasi, dan sendimennya sangat padat dan tinggi. Setidaknya, dengan alur sungai besar yang melintasi kota sampit bisa di normalisasi, dapat membantu cepatnya air surut akibat curah hujan yg tinggi,” timpalnya.

Disamping itu dia juga menegaskan, dalam hal ini semestinya pihak terkait sudah melakukan berbagai langkah yang strategis sebelum potensi ini terjadi berulang-ulang hingga semakin tidak terkendali.

“Sudah harus melakukan inovasi, jangan menunggu musibah ini tambah besar dan berlarut larut. Jadikan contoh tahun lalu banjir ini semakin tidak terkendali, artinya jangan sampai hal ini semakin menonjol dan tanpa ada langkah strategis untuk mengatasinya, setidaknya langkah pencegahan,” tutupnya. (drm/A1).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *