Kamis, Oktober 15

Komisi II DPRD Kotim Minta Pengawasan Hewan Di RPH Diperketat Guna Cegah PMK

Foto: Wakil Ketua Komisi II DPRD Kotawaringin Timur (Kotim), Agus Seruyantara.(ZONAKALTENG/Darmo).

ZONAKALTENG, Sampit-Wakil Ketua Komisi II DPRD Kotawaringin Timur (Kotim), Agus Seruyantara meminta agar pemotongan hewan di Rumah Potong Hewan (RPH) di kabupaten setempat diperketat guna mencegah mewabahnya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di daerah itu.

“Karena, penyakit ini sudah menjadi isu nasional, sehingga perlu ditingkatkan pengawasan agar hewan ternak di daerah ini terhindar dari PMK,” ucapnya, di Sampit, Kamis (19/5/2022).

Menurutnya, untuk melakukan pencegahan mewabahnya virus tersebut pihak terkait harus benar-benar melakukan pengawasan secara maksimal terhadap hewan ternak terutama yang didatangkan dari luar daerah.

“Apalagi kita di Kotim ini rata-rata hewan ternak, dari sapi, ayam, kambing dan lainnya berasal dari luar daerah, terutama sapi yang notabenenya di distribusikan dari luar daerah hingga pulau Jawa. Jadi harus diawasi secara maksimal agar wabah PMK ini tidak terjadi di Kotim,” kata dia.

Bahkan untuk mengantisipasi hal tersebut, Legislator PDI perjuangan ini meminta agar dinas teknis sebagai kepanjangan tangan pemerintah kabupaten untuk melakukan pengecekan terhadap hewan ternak yang sudah siap potong di Rumah Potong Hewan (RPH) dan juga mengontrol ternak yang didatangkan dari luar daerah.

“Untuk pemotongan harus dilaksanakan di RPH dan wajib sudah melalui pengecekan oleh ahlinya, dan jangan sampai daging sapi dan lainya terjual di pasaran dengan membawa virus PMK ini, dan dinas teknis harus memantau secara langsung dilapangan,” pintanya.

Kalau dilakukan pengawasan secara ketat, tentunya daging yang dikeluarkan dari RPH dipastikan sudah pasti dijamin aman, sehat, utuh dan halal (Asuh), sehingga konsumen aman membeli daging dipasaran.

“Dengan demikian, konsumen tidak perlu khawatir lagi soal kualitas kesehatan daging. Dilain sisi para peternak atau pengepul sapi di Kotim ini tidak ragu-ragu, karena kualitas kesehatan sapinya terjamin, sehingga tidak menimbulkan potensi negatif kepada masyarakat kita,” demikian Agus Seruyantara.(drm/A1).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *